
Seminar Internasional & Maulid Nabi UNISI: Memperkuat Peran Universitas dalam Kebangkitan Peradaban Islam
Universitas Islam Indragiri (UNISI) menyelenggarakan kegiatan Seminar Internasional dan Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang menghadirkan Al-Habib Prof. Dr. Muhammad bin Abdul Qadir Al-Aydrus sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan sejumlah gagasan penting mengenai hubungan keilmuan antara Tarim dan Indonesia, tantangan universitas Islam, serta pentingnya mengembalikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi pengembangan ilmu dan peradaban Islam.
Hubungan Tarim dan Indonesia
Mengawali pemaparannya, Al-Habib Prof. Dr. Muhammad bin Abdul Qadir Al-Aydrus menjelaskan bahwa Tarim dan Indonesia telah memiliki hubungan yang panjang, khususnya dalam bidang keilmuan dan dakwah Islam. Kedatangan beliau ke Indonesia diharapkan menjadi momentum untuk memperbarui dan memperkuat kembali hubungan tersebut, terutama melalui kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan keilmuan.
Menurut beliau, universitas Islam saat ini menghadapi berbagai tantangan keilmuan. Banyak universitas telah mengalami pengaruh kuat dari pemikiran Barat sehingga diperlukan upaya untuk memperkuat kembali identitas dan fondasi keilmuan Islam.
Dalam konteks tersebut, Jami'ah Tarim membuka peluang kerja sama dengan universitas-universitas Islam di Indonesia untuk bersama-sama menghadapi berbagai persoalan keilmuan dan mencari solusi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah semakin kurangnya perhatian terhadap ilmu-ilmu syariah. Padahal, ilmu syariah merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun masyarakat dan peradaban Islam.
Al-Habib Prof. Dr. Muhammad bin Abdul Qadir Al-Aydrus juga menyampaikan bahwa beliau telah menulis sejumlah buku mengenai peradaban-peradaban Islam. Menurutnya, salah satu pondasi penting bagi perkembangan peradaban Islam adalah bahasa Arab, karena penguasaan bahasa Arab akan membantu para mahasiswa dan akademisi memahami sumber-sumber keislaman, khususnya dalam mendalami ilmu syariah.
Beliau juga menyampaikan bahwa telah menyiapkan sejumlah makalah yang berkaitan dengan sejarah dan perkembangan Tarim al-Islami, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali khazanah keilmuan Islam.
Islam Tidak Sekadar Akhlak, Adab, dan Ibadah
Dalam pemaparan pertama, beliau menegaskan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang akhlak, adab, dan ibadah. Islam juga tidak terbatas pada pendidikan dan pembinaan akhlak (tarbiyah), serta tidak hanya berbicara tentang akidah.
Menurut beliau, Islam harus dipahami secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Karena itu, universitas Islam memiliki tanggung jawab besar untuk mengajarkan Islam secara menyeluruh sehingga ilmu tersebut dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
Beliau kemudian mengkritisi perkembangan peradaban Barat yang menurutnya telah melahirkan pola kehidupan yang cenderung individualistis dan berorientasi pada kepentingan pribadi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi oleh umat Islam.
Beliau mencontohkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu produk perkembangan peradaban modern. Menurutnya, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru karena dalam kondisi tertentu batas antara kebenaran dan kebatilan dapat menjadi semakin bias.
Oleh karena itu, manusia harus memiliki kemampuan berpikir yang jernih sehingga mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Peradaban Islam, menurut beliau, seharusnya menghadirkan keseimbangan dalam kehidupan dan tidak terjebak pada individualisme sebagaimana yang berkembang dalam sebagian corak peradaban Barat.
Maulid Nabi Harus Diperkuat dengan Kajian Ilmiah
Pada topik kedua, beliau menekankan bahwa agenda Maulid Nabi di lingkungan universitas sebaiknya tidak hanya berhenti pada pembahasan tentang akhlak dan sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ.
Menurut beliau, pembahasan mengenai akhlak dan sifat Nabi sangat penting, tetapi dapat ditempatkan dalam ranah pembinaan masyarakat secara umum. Sementara di lingkungan universitas, peringatan Maulid Nabi seharusnya juga mengangkat tema-tema yang berbasis penelitian, analisis, dan kajian ilmiah.
Universitas harus menjadi "tali" atau pengikat yang menjaga umat agar tidak melenceng dalam menghadapi perkembangan peradaban. Karena itu, universitas Islam perlu mengambil posisi sebagai pusat analisis, penelitian, dan pembahasan berbagai persoalan umat.
Beliau juga mengingatkan kembali tentang pentingnya berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Menurutnya, persoalan utama umat Islam bukanlah Al-Qur'an dan Sunnah, melainkan manusia yang semakin jauh dari keduanya.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah, umat mengalami kemajuan yang besar. Peradaban Islam pada masa kejayaannya mampu memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Beliau mencontohkan perkembangan ilmu kedokteran melalui Ibnu Sina, yang menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam pernah memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang kemudian turut memengaruhi peradaban dunia.
Jangan Hanya Bergantung kepada Ulama
Di sisi lain, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak berhenti hanya pada mengikuti pendapat ulama tanpa kembali memahami sumber utama ajaran Islam.
Menurut beliau, jika umat terlalu fanatik kepada tokoh atau ulama tertentu, terdapat risiko menjadikan ulama sebagai satu-satunya sumber rujukan dan mengabaikan Al-Qur'an serta Sunnah. Beliau mengibaratkan kondisi tersebut seperti umat terdahulu yang terlalu fanatik kepada para rahibnya.
Karena itu, Al-Qur'an dan Sunnah harus tetap menjadi sumber utama, sedangkan pendapat para ulama menjadi bagian penting dalam proses memahami dan mengembangkan ilmu.
Universitas Harus Mengambil Peran Strategis
Beliau juga menyoroti kondisi dunia saat ini, di mana politik dan ekonomi banyak dikuasai oleh kekuatan Barat, sementara umat Islam dalam banyak keadaan hanya menjadi pasar.
Dalam situasi tersebut, universitas Islam tidak boleh hanya menjadi tempat menyampaikan ilmu secara teoritis. Universitas harus mengambil posisi sebagai pusat analisis, riset, dan pembahasan untuk menghasilkan solusi yang memberikan manfaat lebih luas bagi umat.
Menurut beliau, kegiatan keislaman di kampus juga tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan seremonial dan shalawat. Tradisi tersebut tetap penting, tetapi harus dilengkapi dengan penguatan tradisi penelitian dan pengembangan ilmu.
Para akademisi dan mahasiswa harus berani menjadi peneliti. Menurut beliau, ketika seseorang melakukan penelitian yang serius dan kembali menggali sumber-sumber Islam, ia mungkin akan menemukan berbagai kekayaan ilmu yang selama ini belum banyak dikaji.
Dalam konteks tersebut, menjadi peneliti yang berpegang pada prinsip kebenaran dapat menjadikan seseorang seperti "ghuraba", yakni orang-orang yang berada dalam posisi berbeda dari arus umum, tetapi tetap berpegang teguh pada kebenaran dan nilai-nilai Islam.
Harapan untuk Kebangkitan Islam
Di akhir pemaparannya, Al-Habib Prof. Dr. Muhammad bin Abdul Qadir Al-Aydrus menyampaikan harapan agar umat Islam kembali membangun kekuatan ilmu pengetahuan dan peradaban dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai fondasi utama.
Universitas Islam, menurut beliau, memiliki posisi yang sangat strategis dalam proses tersebut. Melalui pendidikan, penelitian, kerja sama internasional, penguatan ilmu syariah, penguasaan bahasa Arab, serta kajian terhadap khazanah keilmuan Islam, universitas diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
Pertemuan antara Tarim dan Indonesia diharapkan menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kembali jaringan keilmuan Islam dan membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dalam membangun masa depan pendidikan dan peradaban Islam.
Harapan akhirnya adalah lahirnya kembali kemajuan Islam melalui ilmu, penelitian, pendidikan, dan pengamalan Al-Qur'an dan Sunnah dalam kehidupan.
